Text 29 May Bapak

Bapak pergi. Tapi saya tidak mengantar beliau. Tidak melihat seberapa besar tas bapak, seberapa banyak barang bawaannya. Tidak melihat kaos apa yang dikenakannya. Tidak melihat apakah beliau mengenakan sandal atau sepatu coklatnya. Tidak mendengar peluit tanda keberangkatan kereta di tiupkan. Tidak disana saat Pras ingin menangis.

Saya di rumah, tidak mengantar bapak. Yang pergi menjemput mimpinya di masa tua nya. Yang memilih jalannya saat usianya beranjak senja. Yang menuntut untuk tidak dituntut. Karena Bapak tidak pernah meminta.

Saya di rumah, menangis  dalam hati. Karena saya bukan siapa-siapa, karena saya tidak kuasa akan apa-apa, karena apalah saya, selain seorang menantu yang merasa paling disayang diantara yang lainnya.

Meski…Bapak itu menjengkelkan. Beliau sering menolak kalau ditawari ingin apa untuk makan siang. Bapak itu menjengkelkan. Beliau sering menolak kalau Pras ingin mengantarnya pulang. Bapak itu menjengkelkan. Beliau sering berbohong punya uang banyak hanya agar anak-anaknya tidak merasa direpotkan. Bapak itu menjengkelkan. Beliau terlalu sering menggendong Ara sampai membuat Ara manja. Bapak itu menjengkelkan. Karena beliau merasa kasihan pada Ara tentang bagaimana kami merawatnya. Bapak itu menjengkelkan. Karena tidak menyukai saya memakaikan Ara popok bayi sekali pakai. Bapak itu menjengkelkan. Karena beliau pergi.

Apakah salah jika Saya selalu mengingatkan Pras agar tidak banyak menuntut Bapak. Termasuk melarang keinginan beliau untuk pergi..apakah ini berarti saya mengajari Pras untuk tidak peduli?

Saya hanya ingin Bapak menemukan hidupnya. Saya hanya ingin Bapak tidak lelah dengan beban yang di tumpukan kepadanya. Saya hanya ingin Bapak senang.

Karena saya tidak sepenuhnya putus asa, karena Bapak mencintai seseorang yang pasti akan menjaganya. Karena Bapak punya dia. Di dalam hatinya.

Mungkin saya membuat ini terlalu melankolis. Saya hanya merasa akan sering merindukan Bapak. Itu saja.

 

 

Mbah Kung hati-hati. Cepet pulang.

Text 22 Apr sederhana tetapi sangat berarti

Sehabis melahirkan hampir semua orang yang menyalamiku mengucapkan selamat, tetapi sada satu orang yang menyalamiku mengucapkan terimakasih.

Bapak.

Text 17 Apr 1 note Tentang Pilihan

Diberkatilah mereka yang mengalami saat-saat ragu.

Sebab dengan keyakinan penuh akan kemampuannya

berarti dia telah berbuat dosa kesombongan.

- The Fifth Mountain, Paulo Coelho.

Life is box full of surprises. Everybody likes surprise, don’t they? Baik itu kejutan menyenangkan atau sebaliknya.

Kepindahanku menjadi katolik adalah salah satu kejutan Tuhan untuk ku. Bukan karena aku menikahi seorang katolik seperti yang banyak orang tuduhkan. melainkan karena Ia mengagetkanku dengan datang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu, memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan, lalu memberikan ku jawabannya sekaligus, sehingga batas tanda tanya dan tanda seru pun menjadi kabur. Lalu Ia beranjak. Memberi ku pilihan untuk diam atau pergi mengikutiNya.

Dalam blog aku pernah menulis kepada mbak Apri yang mempertanyakan kepindahanku itu. Bahwa saat ini aku memang tidak berdiam dalam satu ‘pulau’ yang selama ini aku tinggali, tetapi aku belum menemukan ‘pulau’ baru untuk tempat berpindah. Aku hanya sedang asyik merakit sampan ku, mengejar kapal Seseorang, kemana pun Ia pergi, aku hanya ingin bersama Nya.

Seperti mbah Roko pernah berpesan, bahwa setiap agama pada dasarnya sama. Karena jalan menuju surga adalah sama. Hanya caranya saja yang berbeda. Klise bukan? Seperti sebuah pembenaran untuk kita karena berpindah haluan. Tapi nyatanya, dalam kesamaan itulah kita memang berbeda. Dan karena berbeda itu lah kita sama. Semua agama adalah istimewa. Atau dengan kata lain justru semua agama tidak istimewa? Atau sesungguhnya kita adalah satu?

Pada awalnya aku sama sekali tidak tertarik pada katolik. Padahal banyak teman yang menganutnya. Aku pun pernah berhubungan dekat dengan seorang umatnya. Tapi bagiku saat itu katolik adalah seperti sebuah benda asing di tubuhku sehingga anti bodi di dalamnya selalu menolak bahkan berusaha mengeluarkannya. Jadi katolik bagi ku rasanya seperti sedang telepon. Sepertinya dekat tetapi sebenarnya sangat jauh. Sepertinya jauh, tetapi terdengar sangat dekat.

Lalu pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Lalu jawaban-jawaban itu datang. Lalu keheranan-keheranan itu timbul. Lalu kejutan-kejutan itu menghentak seluruh kesadaranku selama ini. Bukan permasalahan salah atau benar, hanya saja aku merasa tidak berada di jalan yang tepat. Menurut subjektifitas ku. Dan aku kehilangan arah. Losing my grip. Kelangan cekelan. Tidak jatuh tetapi juga tidak bangun. Aku melayang.

Aku memaksa diriku untuk mencari keputusan. Pada sebuah liburan, kami, aku dan keluarga Pras, mengunjungi kerabat di kota Surakarta. Dalam perbincangan, kerabat tersebut yang memang sudah sepuh, mengatakan padaku secara tersirat dan tersurat sesuatu seperti “ pilih salah satu, kemudian percaya saja”. Dan aku merasa memang itu adalah petunjuk untuk saatnya membuat keputusan.

Aku percaya bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini. Sebuah batu yang terlempar karena kaki kita yang tidak sengaja menendangnya adalah aliran hidup yang telah sedemikian rupa di rencanakan oleh, okey..what we call it? Semesta? Alam? Ide? atau Tuhan?. Itu yang aku percaya, bahwa kebetulan itu tidak ada. Maka begitulah aku bertemu Yesus. Mengenal Nya adalah sebuah pekerjaan rumah yang sampai sekarang tidak pernah aku bisa selesaikan. Lalu tritunggal Maha kudus, lalu pengorbananNya yang tidak masuk akal, lalu kematianNya yang pasrah, lalu kebangkitanNya yang mengejutkan, lalu murid-murid Nya dengan segala perselisihan, lalu gereja, lalu para orang kudus, lalu skandal para kaum selibat, lalu hierarki, lalu aku. Kalau saja agama adalah sebuah ujian tertulis maka dengan gampang kita meraih surga dengan belajar semalam suntuk. Tapi iman, adalah sesuatu yang tidak bisa kita pelajari. Begitulah perjalananku bersama Yesus. Sekeras apapun aku berusaha memasukkan segala doktrin Roma maka sekeras itu pula pintu hati dan logika ku tidak mau terbuka. Mas Andre pernah berpesan, Don’t make any decision, don’t think about any religion, think about nothing, and let God finds you, then you’ll find yourself. All you need to do is forgive. Memaafkan adalah tugas terberat. Perlahan aku lupakan masa lalu kepercayaanku, aku temukan kekosongan sampai aku takut pada diriku sendiri. Benar bahwa Tuhan tidak memilih satu agama karena Tuhan tidak butuh KaTePe. Pikirku saat itu adalah andai saja aku tidak tinggal di Indonesia aku pun memilih menjadi agnostic. Maka aku harus punya objek untuk tempat ku setelah berpaling.

Aku mulai datang ke gereja, ke gua maria, ke tempat dimana orang-orang mempertaruhkan logika demi sebuah kepercayaan. Mempelajari apa sebenarnya yang membuat orang-orang itu datang ke tempat tersebut. Aku berpikir tentang segala hal, tapi aku menyebut satu permintaan saja ‘ aku percaya, tapi aku ingin sungguh lebih percaya, maka bantulah aku’. Siapapun Engkau. Memakai di jubah apapun Engkau. Menggunakan simbol apapun Engkau. Bantulah aku. Dan sepertinya Tuhan menggenggam pelan jemariku agar aku tudak lagi kehilangan pegangan. Ia tidak memperkenalkan diri tetapi tiba-tiba mengajak ku berlari. Mengajariku banyak bahan sampai aku merasa kewalahan. Membiarkanku menjawab pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Ia mendidikku mandiri.

Di luar katolik, bahkan masih ada di dalam katolik pun, mengira bahwa katolik adalah penyembah patung Maria. Ingin tau apa yang selalu aku pikirkan ketika menatap patung Maria dimanapun itu? Aku suka menebak imajinasi seniman pembuat patung. Apa yang membuatnya memutuskan membuat mata seperti itu, membuat mulut seperti itu, membuat tangan seperti itu. Apakah mereka bermimpi sebelumnya, atau mereka justru bukan katolik yang merima pesanan dari gereja saja? Karena kadang patung Maria terlihat menyeramkan. Tapi seringkali Maria dipahatkan sebagai wanita manis yang memancarkan kasih dari matanya, salah satunya yang di taman doa gerja Katedral semarang saat Maria memangku tubuh mati Yesus, aku menyukai patung yang itu. Aku suka patung Maria. Aku memang menyukai Maria sejak aku mengenal tentangnya. Ia wanita sederhana dengan iman buta yang total melayani kehendak Tuhan, sampai Ia harus tetap berdiri melihat Anaknya mati, bahkan ketika Anaknya tidak benar menganggapNya sebagai orang tua, ia tetap sederhana tanpa mengharap sebuah eksistensi diri. Aku sering memintanya untuk mendoakan aku karena aku percaya ia memang pernah ada. Dan, kalau aku tidak boleh bilang semua, kebanyakan permintaanku terkabul karena aku percaya ia berdoa pula untukku.

Aku lebih gampang jatuh cinta pada Maria yang manusia ketimbang pada Tritunggall Maha Kudus. Aku tidak bisa menjelaskan ketika kakak ku bertanya ‘ kalau orang nasrani sering berdoa dengan “ yesus, pengantara kami” maka bukankah sesungguhnya Yesus itu bukan Tuhan himself, karena Ia hanya pengantara saja”. I couldn’t explain what I was thinking, but I knew that it’s not quite easy to make people who don’t believe to understand, moreover to people who hate christians.

Ketika orang berkata bahwa sesungguhnya semua agama itu adalah sama aku bilang itu sama sekali salah. Hal itu orang katakan untuk merampingkan konflik karena sebenarnya sangat lebar sekali perbedaan diantara agama-agama di dunia. Karena kerangka berpikir tiap penganut agama satu dengan yang lain adalah berbeda maka timbul prinsip yang berlainan pula. Dalam agama samawi, Tuhan dkk bertempat di langit, far away from us. Sedang dalam agama bumi, Tuhan berada di sekitar kita karena di alam semesta inilah Tuhan itu ada. Itu baru dari pembagian agama menurut asal kepercayaan. Apalagi kalau pembagian agama menurut macam Tuhan itu sendiri. Bagaimana bisa dibilang kalau semua agama itu sesungguhnya sama? so the Budhist will never accept Hindu’s Gods and the explanation of Jesus won’t make any sense to Moslems. Maka kalau penganut agama A menanyakan tentang prinsip agama B, sampai kapanpun tidak akan bisa diterima.

Prinsip ketuhanan islam dengan prinsip ketuhanan nasrani sangatlah berbeda, apalagi dengan prinsip hindu atau konghucu yang mempunyai banyak dewa. Mungkin gampangnya gini, Jika dalam islam Tuhan memberi hak istimewa pada Muhammad as an extra ordinary prophet sehingga menimbulkan kultus idolaisme maka demikian pula Yesus bagi orang nasrani. Bedanya adalah Muhammad masih seorang manusia sedangkan Yesus menyatakan sendiri sebagai Anak Tuhan yang dapat bersatu dengan Tuhan itu sendiri. Sedangkan misteri penyatuan antara Yesus dengan Tuhan tentu tidak dapat diterima akal muslim karena itu tadi, prinsip ketuhanan dua agama itu sudah berbeda. Bahwa Tuhan bukan saja pencipta alam semesta tetapi juga penjaga alam semesta serta sebagai tiang harapan bagi manusia yang selalu punya masalah di dunia ini, or we can call it “pencerah kehidupan manusia”. Tuhan sebagai pencipta dan penjaga alam semesta adalah Tuhan Allah, have no doubt about it. Sedangkan Tuhan sebagai pencerah kehidupan manusia sekaligus pembebas manusia adalah Tuhan Allah yang menghendaki Yesus untuk lahir ke dunia sehingga manusia bisa mencapaiNya. Mungkin Yesus bisa dikatakan sebagai Guru. kalau di agama Budha si pencerah kehidupan manusia adalah Budha itu sendiri, Kalau di jaman kita ya seperti Mahatma Gandhi, Soekarno, or..maybe Muhammad (if he made any mind changes to his people beside war). Mungkin Yesus adalah guru biasa jika apa yang dikatakanNya tidak terjadi, jika Ia mati sia-sia, jika mengajar tetapi tidak bisa menjalankan, jika Ia punya istri or jika Ia punya istri banyak,  or jika Ia mencabuli anak di bawah umur, jika hal-hal buruk Ia lakukan, tetapi Ia tidak melakukan hal itu semua, he’s clean. That’s why I decided to do believe in Him. Mencari adalah hal yang melelahkan. Terpaksa percaya adalah hal yang menjemukan. Tetapi iman adalah sesuatu yang menghibur. Maka, Yesus adalah sumber pengharapan baru bagi ku.

Kemudian aku diperkenalkan pada Suster Emma. Suster Emma berasal dari Nusa Tenggara Barat. Perawakannya sedang, dengan baju ordo bermodel safari. Beliau tidak memakai kerudung seperti suster dari ordo-ordo lain karena ordo nya bersifat bebas tidak mengikat. Beliau mengelola sebuah panti asuhan khusus anak-anak yang lahir di luar pernikahan serta sebagai kepala sekolah di sekolah swasta kecil di daerah Semarang barat. Usia beliau mungkin menjelang 60 tahun, beliau mengingatkanku pada mamah dan budhe, tetapi dengan logat khas luar jawa. Hampir seluruh hidupnya beliau abdikan untuk melayani. Dan aku menyukainya karena ia percaya padaku tanpa berusaha mengajari bagaimana mengimani sebuah kesetiaan. Sebagai Suster beliau tentu punya jam-jam berdoa lebih terjadwal dari pada orang awam, jadi tidak heran kalau beliau suka sering berdoa. Dan setiap kita berkeluh kesah tentang hidup beliau tidak pernah berusaha memberikan solusi, tetapi cukup dengan berdoa, tentu sambil menyelipkan permasalahan kita dalam doa-doa yang di pimpinnya. Beliau selalu katakan “ marilah kita menyerahkan segala permasalahan kita kepada Tuhan”. Cukup dengan itu, sepertinya masalah pun terselesaikan.

Suster Emma pun bilang bahwa di luar sana aku akan menemukan banyak sekali perilaku orang katolik yang tidak sesuai dengan teori-teori yang suster ajarkan, tetapijangan takut pada kekuatan Tuhan. Setelah hampir 2 tahun aku mengenal katolik dan 6 bulan jadi bagiannya secara legal aku hanya bisa mengiyakan apa yang suster pernah bilang. Aku percaya mereka, katolik gadungan itu, tetap mempunyai tempat di hati Yesus dan aku tidak boleh menghakimi.

Aku suka menjadi katolik. Membuat tanda kemenangan kristus tiap akan berdoa. Membuat rosario ketika galau. Mengalami hening yang mutlak saat akan menerima hosti. Menangis mengagumi betapa sempurnanya doa Bapa kami. dan meluruhkan semua ego ketika ber-salam damai.

Orang lain boleh heran, tapi aku terberkati karena telah dikejutkan.

Seperti Dee bilang :Tapi jika untuk bercerai saja saya perlu pindah agama, itu ibarat seseorang yang tertarik pada tusuk gigi di sebuah restoran, dan akhirnya memutuskan untuk membeli seluruh restoran. So inefficient, and so redundant. Out of the question.

Maka saya tidak membeli restoran hanya karena tertarik pada tusuk gigi nya.

Thank you, Jesus

Text 17 Apr 2 notes i miss you, mater dolorosa

Hail Mary,
full of grace,
the Lord is with thee;
blessed art thou among women,
and blessed is the fruit of thy womb,
Jesus.
Holy Mary,
Mother of God,
pray for us sinners,
now and at the hour of our death.
Amen.
Text 10 Oct the wedding

Today I will marry my best friend. The one who had been cheer up my life and he will always does. The one who ever heard all the thing I’ve shared and he always will. The one who showed love perfectly and he’ll always be.

Hari ini aku akan menikahi sahabat ku. Seseorang yang pernah hadir, menghilang, datang kembali, dan menetap di kehidupan ku dulu, kemarin, sekarang, saat ini, yang akan datang dan selama-lamanya. Hari ini aku akan di nikahi sahabat ku. Seseorang yang selalu ada meski dalam ketiadaannya, selalu datang ketika dia pergi, selalu mendengar ketika ia menghilang, dan masih sama ketika ia menghadirkan diri nya kembali. Sahabat yang hilang dan kini kembali.

Aku bertemu pertama kali dengannnya di sebuah aksi mahasiswa gabungan beberapa universitas dalam organisasi yang ku ikuti. Tak ada yang menarik. Yang mungkin selalu terekam adalah kepala nya yang botak hampir tanpa rambut, demikian kemudian aku mengenalnya nya dalam tahun-tahun kebersamaanku dengannya, dengan sikap nya yang agak aneh dalam balutan kaos dan celana awut-awutan menenteng tas punggung dengan stiker ANTI GLOBALISASI HANCURKAN IMF. Tapi bagi ku saat itu tak ada kesan heroik  atau keterpikatan persona pasanya, biasa saja. Selesai bersalaman kami tak lagi saling kontak. Begitulah awal mula Tuhan mempertemukan kami di taman eden versi tahun 2004. Tapi siapa sangka pertemanan kami berakhir seperti ini.

Tahun-tahun yang aku lewati bersama nya tidak meninggalkan kesan mendalam selain bahwa dia-meski tidak selalu ada-berusaha menjadi sahabatku dan tidak berhenti mencoba mendengar apapun keluh kesahku. Tentu saja dengan beberapa kali ia mengantarku pulang. Sekali bertemu mendiang ibu ku dengan memuji kue pisang buatan beliau dan bercengkerama beberapa kali di depan rumah ku saat itu. Pada periode itu aku mendengar selentingan bahwa ia menaruh hati padaku, tapi tak banyak ku pikirkan, karena memang ia tidak pernah mencoba mendekati ku secara berlebih atau menunjukkan perhatian khusus di banding kawan-kawan yang lain. Mungkin yang menjadi agak berbeda adalah bahwa ia selalu melihat langsung ke dalam mata ku. Seperti mencari, seperti menggali, atau mungkin menanamkan sesuatu. Sesuatu itu bila mungkin adalah guna-guna oh betapa guna-guna yang bekerja lambat sekali, bayangkan hampir 5 tahun kemudian guna-guna itu baru terasa khasiatnya. Tapi cepat atau lambat bukan masalah yang penting lagi. Bukankah Tuhan memang punya rencana sendiri yang indah pada waktunya?

Empat tahun berlalu, dengan sedikit kontak dan beberapa kali bertemu tanpa sengaja, membuat kami mempunyai cerita masing-masing yang saling berlomba untuk di ceritakan dalam pertemuan kami yang sedikit terlambat. Ada sedikit penyesalan, mengapa ia tak pernah ada ketika lima tahun aku merasa ‘sendirian’, atau perasaan cemburu ketika banyak lubang-lubang pernah terisi gadis-gadis lain (tapi sekarang aku berteman baik dengan salah satu diantaranya).

Kami bertemu lagi setelah sekitar empat tahun berselang, di aksi hari buruh tahun 2008. Di sela long march ia bertanya bagaimana kabar ku, dan tentu pula tak pernah ketinggalan adalah pertanyaan tentang status asmara ku dengan orang lain saat itu. Karena memang posisinya kosong aku bilang saja aku sedang sendiri, tak punya teman dekat. Lalu ia berbisik ‘ berarti aku ada kesempatan’. Aku tanggapi dengan tertawa pelan. Ah, ia memang selalu menggoda ku, tapi selesai sampai disitu. Tak pernah berjalan lebih, tak pernah melangkah lebih, karena ia tak pernah lebih. Aku jadi ingat pada suatu petang di periode awal kami berteman, ketika aku dan dia berjalan mencari makan. Dalam perjalanan menuju warung aku merasa bahwa ia mencoba menggesekkan lengannya di lenganku. Aku diam saja karena aku sudah bisa menebak bahwa ia tak mungkin berani menggandeng ku. Dan memang benar, ia cuma beberapa kali dengan sengaja menggesekkan lengannya di lenganku. Bagi ku tak ada rugi nya, hanya saja aku bertanya-tanya mengapa ia sepenakut itu. Mungkin karena ia sesungguhnya punya pacar sehingga takut bermain api dengan ku, atau memang ia benar tidak sengaja menyenggol tanganku.

Malam setelah may day aku mencoba mengiriminya pesan singkat, menanyakan dompet nya yang hilang waktu aksi berlangsung. Ternyata dompetnya hanya ketinggalan, tapi ia menawarkan mengantarku pulang. Katanya biar dia bisa presentasi untuk mendekati. Targetnya adalah menjadikanku pacarnya. Aku hanya tertawa. Beberapa kali ia menggodaku, beberapa kali ia menawarkan, tapi tak pernah serius ia lakukan. Aku jawab saja “sudah, tidak perlu, lain waktu kalau memang aku butuh tumpangan pulang aku akan menghubungi mu”. Ia setuju. Lihat bukan? Untuk seseorang yang menaruh hati betapa irit ia berusaha mendekati. Batas takdir dan usaha jadi tipis sekali, ini berarti aku dengan gampang nya mau atau memang begini jalan kami? Tak ada jawaban yang bisa ku pegang, yang jelas bukan permasalahan ia benar berusaha mati-matian. Boleh ku katakan ini cara Tuhan?

Beberapa waktu setelah hari itu ia menghubungi ku. Malam itu aku sedang menemani teman membantu bapak nya berjualan di pameran yang di adakan di Lawang Sewu. Ia menawari ku pekerjaan. Ada lowongan di kantornya. Aku setuju. Aku akan di jemputnya. Dan kami pasti bertemu lagi. Banyak scene yang kami lewati tapi hanya satu momen yang terekam sampai saat ini. Dalam perjalanan menuju kantor nya Ia bergumam tentang kami. “Put, kamu kan kosong. Aku juga kosong. Kok masih susah saja”. Maksudnya masih susah bagi kami untuk pacaran. Aku hanya tertawa geli di buatnya.

Intensitas pertemuan kami lebih sering setelah pertemuan itu. Dan ia meminta ku menjadi pacarnya. Hal lucu yang ku katakan padanya saat Ia meminta ku adalah tentang label. Aku bilang “kenapa sih semua orang harus memberi label pada setiap toples”. Untuk membedakan gula dan garam, merica atau kopi, dan sebagainya. Kenapa kita tidak membiarkan segala sesuatunya alami. Tanpa label. Pacaran atau tidak. Ia bingung, aku juga bingung. Aku mengatakannya dengan alasan entah. Entah sebenarnya aku mau, entah sebenarnya aku enggan memutuskan, entah bagaimana. Dan malam itu sebelum Ia pulang Ia bertanya sekali lagi “ Ya Put Ya”… aku lupa apakah aku mengangguk atau menggeleng atau berkedip atau mematung, yang jelas setelah malam itu kami benar pacaran.

Banyak hal mengejutkan terjadi diantara kami. Dan perasaanku padanya semakin beragam pula. Semua rasa bercampur menjadi satu, seperti banyak hal dalam kehidupan, dimana hari-hari kita adalah dua sisi mata uang. Bersyukur dan menyesal, senang dan sedih, kecewa dan suka cita, marah dan gembira, sakit hati dan dendam sekaligus belajar memaafkan, ingin pergi ketika dalam saat yang sama masih berusaha tetap bertahan.

Dan ini lah kami. Yang bila menengok sebentar ke masa lalu hanya ingin tertawa dan saling memeluk. Tanpa berusaha menjadikan abu-abu menjadi biru, atau merah muda kelihatan aslinya. Karena kami apa adanya, dan masih selalu belajar di tiap detik yang kami lewati.

Hari ini kami akan menikah. Dan semakin jelas semua jalan bahwa cinta dan romansa saja tidak akan pernah cukup. Bahwa perjuangan tidak berarti telah berakhir dan sang putri bahagia selama-lama nya hidup bersama pangeran. Justru dari situ kendaraan kami mulai berjalan, merambat pelan menuju sesuatu yang kami tidak pernah tau, masa depan. Dalam kendaraan itu kami harus berusaha untuk saling berpegang, saling merapat, dan saling menjaga. Sekali waktu boleh lah kalau saling sibuk dengan pemandangan luar, asyik dengan pikiran masing-masing. Karena bagaimana pun juga kami adalah dua orang dengan organ tubuh serta susunan perasaan yang berbeda. Tapi kendaraan harus tetap terus berjalan. Tidak boleh di hentikan oleh manusia mana pun. Tidak boleh macet karena ulah pihak lain. Tidak boleh mogok karena campur tangan dunia luar. Kami harus berjalan terus dan menjaga agar jangan pernah kendaraan kami berhenti meski kami hanya dua orang penumpang saja.

Hidup itu seperti naik sepeda. Kita tidak akan pernah gagal, kecuali kalau kita berhenti mengayuh. Mari mengayuh. Tapi kita bisa berhenti berteduh di bawah akasia jika kau lelah. Kalau kau sedang bersemangat, kuatkan aku untuk tidak menyerah. Ketika ingin berbelok kita bisa bicara agar tidak salah. Karena dalam genggaman kita temukan Tuhan supaya jangan sampai kalah. Mari mengayuh, sahabat. Mari mengayuh, cinta. Mari mengayuh kehidupan kita. Bersama.

Quote 6 Sep 1 note
Don’t make any plans. don’t make any thoughts yourself. Don’t search anything. Just let God find you. And He will.
Don’t make any alternatives. Don’t believes in any religion. Just give yourself in, and God will find you. Open your mind and heart.
you’ll find your path..
just give yourself in…
— Mr Andre GAA
Quote 13 Aug
Tapi jika untuk bercerai saja saya perlu pindah agama, itu ibarat seseorang yang tertarik pada tusuk gigi di sebuah restoran, dan akhirnya memutuskan untuk membeli seluruh restoran. So inefficient, and so redundant. Out of the question.
— Dee
Text 1 Aug perempuan jaman sekarang

Image Hosting by Picoodle.com

cantik. bossy. bersuara keras.

kok gaptek?

Quote 23 Jul 1 note
There’s nothing you can do that can’t be done. Nothing you can sing that can’t be sung. Nothing you can say but you can learn how to play the game. It’s easy.
— The beatles
Text 22 Jul Me

These subjects could interest you!


literature, philosophy, psychology, music, art (museums), writing, drawing/painting, astrology, spiritual things, meditation, handicrafts,voluntary work.

yes, all i want is being a writer. but how?

I found this link from this grumbler :)


Design crafted by Prashanth Kamalakanthan. Powered by Tumblr.